Kamis, Desember 17, 2009
Sabtu, Desember 05, 2009
Lompatan dari Dunia Maya Kawan-kawan (kedua)
1. huruf-huruf membentuk dunia sendiri
o, kerinduan macam apakah
yang sesungguhnya kita tempuh?
2. tanpa teman bicara
disusurinya gelombang elektronik
mengambang sendiri sampai eternit
dikumpulkannya kewarasan
3. aku terantuk dan jadi kesal
sebab aku tak tahu maumu
dan payah merayap dalam gelap ini.
nah sekarang aku sudah bicara
kuharap neon dikepalamu
bisa menyala
4.sajak ini kupajang,
ditembok kamar sebelah
tempat tersimpan berjuta-juta doa
pengharapan
5. daun-daun masih tetap tanggal dari induknya
digelitiki lidah hujan yang bermain-main genit di tangkalnya
tapi induk pepohonan hanya tertawa
membiarkan anak-anak daun gugur dari tubuhnya
pergi pengembara entah ke mana
6.Sunrise kembali berlaga
Hiasi irama kicau pagi
Dengan seribu cahaya malam
Senyum dan tawamu
Laksana embun kala fajar
Tatapan diiringi nasihatmu
7. Tidak ada waktu untuk kembali,
para pencinta lebih banyak mengalirkan mata ke hati,
dan cinta ini menemukan hati menuju mataku,
lebih mudah bagiku bersahabat dengan angin.
8.saat pagi merubahku menjadi kepompong padamu
dan siang tak sempat jadi kupu
itu juga kebenaran
kau tetap tu an
9. Satu satu satu
Kuhitung kembali lagi
Segala album kenangan ini
Jika semua sudah jadi masa lalu
Hanya ingatan, menghadiri masa lalu
Tiada ada kuasa, untuk membuat yang baru
10. Aku nanar memandang hujan. Nanar. Memandang hujan.
“tetapii…aku belum tahu namanya..aku belum tahu namanya..”
Cahaya menangis lebih keras dan memelukku lebih erat.
11. Hujan paling sepi runtuh di depan rumahku
Aku tak lagi mendengar suara-suara
Tak lagi diganggui gemuruh
Dan tak perlu menutup telinga
Rinainya menjantang
Dinginnya mengabar
13. aku menunggu matahari terbit di ufuk
untuk menerangiku meneruskan perjalanan ke arah barat
untuk menjumpai keyakinanku
yang selalu mengawalku berkata-kata
dan menemaniku bercerita
14. senyap menunggangi hati
pikirku berkumpul terjeruji, satu diri
merenungi bait-bait yang telah menjadi jawaban
atas pilihan yang terlarung tadi
15. Aku tak berbunga lagi, kelopak-kelopaknya berjatuhan selama di perjalanan. Duriku terlepas dalam badai. Sudah, kubur aku sekarang juga.
16.
17. Sepenggal kata yg kau sisakan,
masih terasa menghujam ke ulu hatiku
Ku tak dapat bersembunyi dalam bayang,
Melepas kepergianmu dibalik pintu...
18. Namun kau terus tersenyum...
Seindah langit berhias lampion bintang..
Merasakan kesedihan ku akan rindu..
Dan kau bangkitkan aku dari kematian akan cinta.
gutlak :D
berikut komen dari kawan-kawan peserta test;


:D

hehehhe ..

salut tuk kalian semua!

yang ini kayaknya juga sama,
Izin tak hapus yo, koment yang pertama, ntar ada yang punya, aku jadi ga enak plus malu juga, hehhehehe

biarlah AL

Isin aku mas, wkkwkwkkwk
Ntar orangnya marah ..

:D









musti yang punya akun ini kegirangan didatengi... :p xixixi...

(kenapa harus bagian itu yang diambil, Ring?) :D




sekarang,..
apakah ada potongan tubuhku disana?? hiks... tak ada. dan kamu tag aku. jahaaaaatttnya....
... See More
tapi gimanapun, aku suka kreatifitasmu ini..hohoho..

@GM: blum tentu itu angka keberuntunganmu brader! :D
@G: ;) (juga)
@Pon : siapa no 5 n 15?? heuh nti salah alamt lg! ... See More
ssstt.. Pon..kmu tau kan tag line nya film 2012??... jd aku harus hati2... *tdk menunjukkan tanda kegirangan di wjah.. just flat smile*

sajak kosong...oh ya? jangan terlalu yakin sobat. penulisnya saja sdh ku tagg tp dia ragu... apalgi kamu!
@Kika: tentu akan kuberi jempol jika jawabanmu tepat... tp... tunggu saja tanggal mainnya..huahahahahahahaaa
@sandra: yakin tidak ada????? coba ingat2 lg..masih hangat kok!!
@Dai: maafkan atas keterbtasan daku, ini aja kukumpulkan sampe jam3.50 dini hari! hehehe. next time maybe

kenapa pilih yang transparan tanpa baju dalem?? hehehe pura pura nggak tau ah.



satu satu satu, aku sayang dhoku
dua dua dua, aku sayang jiwa
tiga tiga tiga, aku gila juga
..........................

orang gila...orang gila...orang gila..orang gila...
kekekekekkkk




@Sunk: hehehehe.. biar tegar kaya penyanyi Rosa itu loh
:D


...seketjil-ketjilnya & dalam tempo sesingkat-singkatnya. Serang 04-12-09.
JAWAB atau KUPAS?


@ ing...ya betul tu ingrid...dn ayo ngeblog lgi ing..jd kangen ma puisi2mu...

hehehehe.. ini bagian dari teror mental!!
:D



tp tak apalah tanpa kehadiran beliau..mungkin lg sibuk dg Elang :)

THIS IS IT!! ........ (Michael Jackson bgt! :)
1. (NDK) http://puisi-nanoqdakansas
... See More
2. (Maria I) http://negeriajaib.blogspo
3. (Ge) http://gratcianulis.blogsp
4. (PK) http://puisikalasenja.blog
5. (DM) http://www.penganyamkata.n
6. (Kao) http://takamiyatwul.blogsp
7. (KS) http://berbagipuisi.blogsp
8. (Herlina tiens) http://herlinatiens.wordpr
9.(Stanis)http://www.facebook.com/pr
10. (Ivone) http://ivoneeveline.com/
tdk di tag krn bukan friendlistnya Koelit tp Aliyth maaf, gak bisa bedain! :)
11. (Lisa) http://ladangkata.com/2009
13 (GM) http://goenoeng.com/?p=83
14. (Al if) http://www.facebook.com/no
Al pdhl jawaban awalmu benar tp knp kamu delete? Gak luat mental lu! Hehehe
15. (Surya) http://soerjahrhezra.blogs
16. (Sandra) http://www.facebook.com/ho
17.(sunk) http://www.facebook.com/ed
18.(Leliana) http://www.facebook.com/no
silakan di cross check sendiri.
terimakasih atas kata-kata luarbiasanya!!! :D


apa aku ngiming2i hadiah?
*mengecek postingan notes*
ahh gak ada mas!
:D... See More
oohh klo gak hadiah bisa diambil di pos ronda RT masing2..
kekekekek. matur suwun atas kata2 luar biasanya!



yes, berhasil ..



@AL; berhasil apanya! hla wong kamu ragu kok!! aku yg berhasil menanamkan teror mental itu..hahahahaha
@kika: wah harus ku copy paste neh jawabanku thd pak penyair itu diwallnya..ato pak penyair aja yg kasih tau gimna caranya mengambil hadiah. tolong kasih tau mas kika ya!... See More
:D
@Soerja: hey Pon! aku selalu saja salah dihadapanmu tau gak! kupanggil Klepon gak mau, kupanggil Bambang, Joko, Mahmud atao Karjo juga gak mau. jadi aku harus sebut namamu dg panggilan apa? haruskah; Dik ? kekekekekkkk :D
khusus utk yg menagih hadiah motor *tiba2 terlintas dlm otak jailku*
saya menantang test berikutnya adalah menebak tulisan2 siapa yg aku kutip nti (jd bukan hanya menebak tulisan sendiri). TANPA BANTUAN MBAH GOOGLE TENTUNYA!
well, berani??
klo si Pon sih palg cuma tau tulisan kedua bradernya doang tuh :D
Senin, November 30, 2009
Melompat dari satu Dunia kawan ke Dunia kawan lainnya
1.
ada bulan di kakiku
sedang kurindu
kau
dalam-dalam
2.
“Anak-anak kita sekarang sangat tidak kreatif. Apa-apa maunya beli. Mainan mobil-mobilan harus yang harganya mahal dan pakai remote control. Kenapa mereka tidak seperti kita dulu, yang bisa mengolah kulit jeruk, buah jarak, sabut kelapa, pelepah pisang, pelepah kelapa atau gelontongan kayu menjadi sebuah mobil-mobilan cantik?"
3.
semua terlihat cantik
bahkan akan sangat cantik
saat pikiran kita pun cantik
tak terkecuali kamu
4.
aku menarik imaji ksatria tangguh namun berhati rapuh, dalam benak aku tersenyum sambil terus berpikir, siapakah yang sebenarnya pecundang.
5.
mungkin butuh kitab suci
membenahi yang lelah dalam sepi
atau bakar saja dupa
di depan pertigaan pasar bunga
6.
Hanya mengenang pada aroma manis, lalu asam, tawar, tanpa pahit. Merasuki alur napas tanpa reda. Dalam pagi, dalam petang, bahkan dalam hari anomali yang tak juga terjemahkan
7.
berpenggal silam,
aku mengantar lima kilo beras jatah kepegawaian Bapak
untuk ditukar lembar rupiah, menyambung hidup sehari-hari
lantas, begitu kami mulai kenaikan kelas,
aku berdiri di loket antrean, mengantar Ibu menggadai kalungnya
8.
Seburuk apapun ayahmu, dia tetap ayahmu. Darah dia, mengalir di darahmu. karena dia, kamu ada di dunia ini. tidakkah kamu sadar akan hal itu? tanyaku saat itu.
9.
“Sehari tak minum kopi, rasanya seperti siang tanpa matahari. Tak lengkap sebagai hari!” begitu selorohnya suatu kali.
10.
setitik titik menjadi bara
sebara bara memerah mata
mata-mataair jatuh mengikis wajah
11.
Karena adamu selalu dalam hadirku
Beserta hangatnya kasih sayangmu
Tiada kuasaku memohon lebih darimu
Kini aku mengerti sudah akan cintamu
12.
Tahukah anda kalau orang yang kelihatan begitu tegar hatinya, adalah orang yang sangat lemah dan butuh pertolongan?
Tahukah anda kalau orang yang menghabiskan waktunya untuk melindungi orang lain adalah justru orang yang sangat butuh seseorang untuk melindunginya?
Tahukah anda kalau tiga hal yang paling sulit untuk diungkapkan adalah : Aku cinta kamu, maaf dan tolong aku
13
Pak sopir, berhenti sebentar, mas, angkotnya udah berhenti…Gih turun dulu sana kalo mau nyelesein ngerokok…entar ongkosnya sampe sini saya aja yang bayarin
14.
Dimana lagi atau kemana lagi saya dapat belajar atau mencari pengetahuan tentang Ilmu Moralitas atau pengetahuan tentang mental dan etika……? ini adalah sebuah pertanyaan yang mengusik pikiran beberapa waktu ini.
15.
Bening pagi samudra damai
pertempuran hapus mendenda
dendang kasmaran menyelinap ke hulu
usai malam tak berkesudahaan
16.
Alif Laam Miim... menderu ditelingaku
Tak diam hatiku mencari makna
Allah telah sisipkan teka-teki Hijaiyah
Tak ada keraguan bagi petunjukNya
17.
Kulihat butir-butir peluh di dahimu.
Sejenak kupejamkan mataku, kutarik nafasku dan aku berusaha keras mengingat bau khas keringatmu
18.
Dari embun
Aku ditelan laut bulat-bulat.
19.
Kaca jendela bercat merah,serupa darah pekat,terpantul oleh lampu kristal
kaca itu menyilaukan ruangan... efeknya begitu mengerikan.
darah merah dan horor darah...kesakitan tak terperi.
20.
menanti pecahnya janji
oleh retak mulut
yang bergumam, katakata
makna menyepuh kata
kemudian, hati yang mengulang
setiap saat, setiap saat
(jika semua sudah menjawab maka akan saya keluarkan kunci jawabannya)
gutlak! :)
********
ini jawaban kawan-kawan yg kuambil dari note facebook:









togel?? payah bener pikirannya gak jauh2 dari cliwik..kekekek






kenapa?? menurutku kuat saja pon, jika memang jwabanmu no yg itu.
utk no 20.. hhhmm tau deh :)







aku baru membaca nomor satu langsung tau...lhah ini bukannya salah satu tulisanku?
trus komen tadi...nah lalu membaca nomor dua, tiga dan seterusnya....ldan tertawa....ya...yg nomor satu itu tulisan saya :)
cuma lupa dimana dan kapan







kebetulan belaka dirimu ada dinomor pijet... ehh no urut ke satu :D
@GM: siapa sih.. nOWraks BgeUD ...xixixixixixi :D
... See More
@MV: pengetik? kekekekk
@mbk Lel: yakin neh mbak? :)
@mbah EWA: jgn cuma komen..jawab juga dong.. hehehehe takut salah ya? :D
@bang Nanoq: rasanya rasa coklat hasil olahan kebun kakao mu bang :D




yg belum kukutip tunggu saja hasil hunting ke 2 ku
:D


kalo dibaca bener2 sptnya ada runutan peristiwa dari 1-20, mantap drong! :)

@Sunk: karena mnjawabnya dg cuek.. akupun akan memberi nilai dg cueknya!..
itu sebabnya aku salut dg kalian2 yg kukutip..mengalir....
:D


*melirik ke buku tamu blog*
KUNCI JAWABAN
1. ada bulan di kakiku
sedang kurindu
kau
dalam-dalam (Herlina Tiens)
2. “Anak-anak kita sekarang sangat tidak kreatif. Apa-apa maunya beli. Mainan mobil-mobilan harus yang harganya mahal dan pakai remote control. Kenapa mereka tidak seperti kita dulu, yang bisa mengolah kulit jeruk, buah jarak, sabut kelapa, pelepah pisang, pelepah kelapa atau gelontongan kayu menjadi sebuah mobil-mobilan cantik?" (Nanoq DK)
3. semua terlihat cantik
bahkan akan sangat cantik
saat pikiran kita pun cantik
tak terkecuali kamu (Kika S)
4. aku menarik imaji ksatria tangguh namun berhati rapuh, dalam benak aku tersenyum sambil terus berpikir, siapakah yang sebenarnya pecundang. (Zee Noor)
5. mungkin butuh kitab suci
membenahi yang lelah dalam sepi
atau bakar saja dupa
di depan pertigaan pasar bunga (Maria I)
6. Hanya mengenang pada aroma manis, lalu asam, tawar, tanpa pahit. Merasuki alur napas tanpa reda. Dalam pagi, dalam petang, bahkan dalam hari anomali yang tak juga terjemahkan (Lisa F)
7. berpenggal silam,
aku mengantar lima kilo beras jatah kepegawaian Bapak
untuk ditukar lembar rupiah, menyambung hidup sehari-hari
lantas, begitu kami mulai kenaikan kelas,
aku berdiri di loket antrean, mengantar Ibu menggadai kalungnya (Surya Hr)
8. Seburuk apapun ayahmu, dia tetap ayahmu. Darah dia, mengalir di darahmu. karena dia, kamu ada di dunia ini. tidakkah kamu sadar akan hal itu? tanyaku saat itu. (Reti H)
9. “Sehari tak minum kopi, rasanya seperti siang tanpa matahari. Tak lengkap sebagai hari!” begitu selorohnya suatu kali. (Daniel M)
10. setitik titik menjadi bara
sebara bara memerah mata
mata-mataair jatuh mengikis wajah (Sunker)
11. Karena adamu selalu dalam hadirku
Beserta hangatnya kasih sayangmu
Tiada kuasaku memohon lebih darimu
Kini aku mengerti sudah akan cintamu (Stanis)
12. Tahukah anda kalau orang yang kelihatan begitu tegar hatinya, adalah orang yang sangat lemah dan butuh pertolongan?
Tahukah anda kalau orang yang menghabiskan waktunya untuk melindungi orang lain adalah justru orang yang sangat butuh seseorang untuk melindunginya?
Tahukah anda kalau tiga hal yang paling sulit untuk diungkapkan adalah : Aku cinta kamu, maaf dan tolong aku (Djohan K)
13 Pak sopir, berhenti sebentar, mas, angkotnya udah berhenti…Gih turun dulu sana kalo mau nyelesein ngerokok…entar ongkosnya sampe sini saya aja yang bayarin (Yessy M)
14. Dimana lagi atau kemana lagi saya dapat belajar atau mencari pengetahuan tentang Ilmu Moralitas atau pengetahuan tentang mental dan etika……? ini adalah sebuah pertanyaan yang mengusik pikiran beberapa waktu ini. (Toto)
15. Bening pagi samudra damai
pertempuran hapus mendenda
dendang kasmaran menyelinap ke hulu
usai malam tak berkesudahaan (Ersis)
16. Alif Laam Miim... menderu ditelingaku
Tak diam hatiku mencari makna
Allah telah sisipkan teka-teki Hijaiyah
Tak ada keraguan bagi petunjukNya (Koelit)
17. Kulihat butir-butir peluh di dahimu.
Sejenak kupejamkan mataku, kutarik nafasku dan aku berusaha keras mengingat bau khas keringatmu. (Henny)
18. Dari embun
Aku dtelan laut bulat-bulat. (Kaoru)
19. Kaca jendela bercat merah,serupa darah pekat,terpantul oleh lampu kristal
kaca itu menyilaukan ruangan... efeknya begitu mengerikan.
darah merah dan horor darah...kesakitan tak terperi. (Leliana Lesamana)
20. menanti pecahnya janji
oleh retak mulut
yang bergumam, katakata
makna menyepuh kata
kemudian, hati yang mengulang
setiap saat, setiap saat (Goenoeng Moelyo)
terimakasih atas kata-kata indahnya dan jawabannya :D
Kamis, November 26, 2009
Rindu Gelanggang
“Ki, antar Abang ke bandara sore ini.” Kunci Jeep Wrangler masih belum tersentuh pada perut Sepupuku yang masih tertidur malas. Aku turun sebentar menuju garasi mobil, mencari benda yang telah lama tak kugunakan, kuangkat dan kugantungkan.
“Loh, kamu kok belum mandi juga Ki?! Ayo cepat! Sudah jam berapa ini?” kulempar muka Sepupuku dengan handuk kecil yang penuh dengan keringatku.
Baiklah disini tempatnya, tempat yang telah kau sepakati. Sepupuku masih juga belum mendapatkan jawaban siapa yang
Begitu pula darahku berdesir hebat melihat sesosok yang kutunggu-tunggu ini, langkah kupercepat. Orang yang kutunggupun rupanya sudah melihatku, sementara Sepupuku tergopoh-gopoh mengikutiku sambil sesekali membersihkan sisa noda soda di kaosnya. ”Bang tunggu sebentar! Ngapain sih buru-buru banget?” Sepupuku selalu merengek, aku tak peduli, kali ini adrenalinku menggelegak sampai ujung tenggorokanku. Dapat kurasakan juga aura orang di hadapanku meskipun berjarak tiga puluh meter di depan, dilepaskannya troli yang berjejelan koper dan barang-barang bawaanya. Matanya nanar!
Sebuah tendangan berkelebat cepat, tiga meter bukan jarak serang efektif bung, tapi jab kirinya mendarat di dadaku kubalas counter sabit, rupanya reflek tangkapannya cukup sigap, masih bisa kuatasi dengan clints. Kali ini tangan kanannya mendorong bahuku sementara kaki kanannya menyapu tumpuan kaki kiriku, diangkatnya tinggi-tinggi badanku, kami jatuh berdebum bak karung beras terlempar di atas dermaga oleh kuli panggul. Beruntung aku masih sempat menarik bajunya.
Belum tegak kakiku bertumpu serangan tendangan lurus masuk bagian ulu hatiku, hanya bergeser beberapa senti ke belakang saja efek tendangannya menjadi sia-sia, sekarang aku yang memegang kendali, kaki kanannya pada genggamanku kali ini. Kusasar kaki tumpuannya, petarung yang cerdas tak kehilangan akal ketika kondisi kritis. Dua kali kusasar, dua kali pula dia melompat kecil, keseimbangan yang luarbiasa mengingat sebelah kakinya masih kucengkeram kuat. Kulepaskan cengkeramanku kususul sebuah tendangan kearah dadanya, serupa prajurit menusukan tombak, dia terdorong beberapa meter. Senyumnya sinis.
Kurasakan buluk kudukku bergidik melihat senyumannya, aku tahu monster itu telah lepas dari raganya. Dia menjual sebuah tendangan sabit pada rusuk kiriku, kubeli dengan jab tepat di dadanya, sekali lagi tendangan yang sama mendarat kearah rusuk kananku, tangkisanku luput mesti tangan kananku telah kualiri nafas kering. Kuimpaskan dengan tendangan belakang.
Suasana bandara menjadi riuh, kumpulan orang tiba-tiba membentuk gelanggang hidup. Beberapa petugas keamanan terlihat berlarian dari lantai dua. Sepupuku masih shock, tak tahu harus berbuat apa. Nafasku tersengal-sengal, mengutuki setiap tetes cafein yang pernah kutenggak dan deru racun nikotin yang berkarat pada paru-paru. Wajahnya masih sumringah tak terlihat kerepotan dengan pola nafasnya dan otot-ototnya terbentuk sangat sempurna, keras seperti tulang.
Kurang dari satu meter aku berdiri tepat dihadapan kuda-kudanya yang pengkuh, jarak serang sangat efektif. Kutunjukkan senyum lepasku, kali ini ekspresi wajahnya yang menunjukkan kekhawatiran karena dia tahu monsterku telah lepas. Kami beradu-balas, jual-beli serangan masing-masing, masuk, tertangkis, terelak hingga pada posisi clints dia mendorong tubuhku lalu sedetik kemudian tubuhnya melayang cepat kedua kaki terbuka di udara, pinggangku tanpa perlindungan, dalam detik jatuh berdebam kukutuki kelengahanku atas serangan guntingannya. Seluruh tubuhnya berada diatas tubuhku dalam posisi mounting, tamat sudah riwayatku. Lengan kirinya mencekat bajuku, lengan kiriku menahan remasannya, sekepal bogem mentah sudah pada posisi siap terlontar, kusambut dengan tangan kananku.
Kupegang erat-erat jemari tangannya, mengguncang-guncangkan cengramannya. Kami tertawa lepas, puas, rasa rindu dan haus bertarung kami telah terpenuhi. Sempurna.
Lengannya dengan ringan menarik badanku yang melumer pada lantai keramik bandara, bisepnya terbentuk dengan sempurna dalam siluet kaos katun ketatnya. ”masih sangar juga kau ini brader!!!” hah, sialan kau kawan! Aku bertahun-tahun tak pernah menempa tubuh ini dengan latihan sementara kau di jazirah Arab sana setiap detikmu bercengkrama dengan ribuan ton beratnya alat pengeboran minyak atau mungkin sparing partnermu onta padang pasir. Aku... sparing partnerku hanya layar monitor, pelatihku Mbah Google dan suplemen multivitaminku hanya cafein dan nikotin!
Kumpulan manusia yang membentuk gelanggang hidup membubarkan diri dengan raut wajah kecewa, Sepupuku masih juga binggung sementara tiga orang petugas keamanan merasa sia-sia telah berlarian tergopoh-gopoh. Inilah salam sambutan kami, beginilah cara kami menunjukkan rasa sayang dan luapan rindu yang lama terpendam. Kapanpun dan dimanapun kami bertemu pasti selalu terjadi adegan ini, sejak SMA dulu, bahkan kawan-kawan sekolahku dan sekolahnya hampir tawuran karena salam persahabatan kami yang aneh ini. Nafasku belum pulih.
“So, bulan Desember ini jadi kita turun gelanggang brader?” kami berjalan lemas menuju deretan cafetaria pada bandara ini. “Kau tahu brader, mengapa aku jauh-jauh pulang kampung dan rela meninggalkan pekerjaanku, hanya untuk apa?” kujawab pertanyaan kawan akrabku hanya dengan senyum. “Minggu kemarin Mas D menelponku, ada event untuk bulan desember depan. Kukira hanya untuk meminta bantuan sponsor bagi para atlet, untuk subsidi suplemen adik-adik kita seperti biasanya, rupanya ada berita yang lebih mengejutkan lagi. Mas D bilang kau akan turun gelanggang, itu sebabnya aku pulang brader!” matanya berbinar-binar.
Minuman pocari sweet yang baru saja masuk tenggorokanku terpaksa harus keluar lagi tersembur, kena baju Sepupuku. “Hahhh!!! Kau tahu kenapa aku mau turun gelanggang? Karena Mas D telpon aku minggu lalu dan dia bilang kau duluan yang menginginkan turun gelanggang!!” kami berdua hanya berpandang-pandangan tertawa terbahak-bahak. Ahh, bapak tua itu rupanya hanya merindu melihat kami berada di tengah gelanggang! Handphoneku berdering, terlihat pada layar ’Mas D.. calling’ kutekan tombol ’yes’. “Sudah kamu jemput ‘musuhmu’? kalau sudah secepatnya menuju padepokan, matras padepokan sudah kangen kalian!” kami menjawabnya serempak “Siap suhu!!!”
- Saat merindu sparing partnerku -
Selasa, November 24, 2009
Jalan Lantang
“Bajin#@*%**n!!! Ayo sopo meneh sing wani? Ayo maju, ass#*! Nek wani ojo seko mburi, karo `cah cilik meneh, juanc*k!” gelegar teriakan lantang dan menggema di sepanjang Jalan Pajeksan dini hari itu seolah tidak dapat berhenti menggetarkan nyali siapa saja yang kebetulan berada di sekitar daerah Pajeksan. Aroma sisa lapen -alkohol racikan khas Jogja, yang seharusnya menguap namun tertahan oleh udara dingin bahkan berubah menjadi embun di sepanjang trotoar dan aspal. Pajeksan dini hari itu tidak lagi seramai malam tadi.
Usaha Kang Jasbo, dedengkot wilayah Pajeksan yang memiliki wajah mirip dengan Sawung Jabo menjadi sia-sia, tak mampu menahan emosi Lantang yang telah melampaui batas kemarahannya. Wirog dan kecoro saja takut untuk muncul dari celah selokan-selokan bawah tanah, parang sepanjang 140 sentimeter berkilau dengan tambahan motif karat yang tercipta dari darah kental mengering, sudah banyak korban yang harus menyerah pada ayun dan kelebat pedangnya yang terbuat dari besi tempa suspensi mobil truk yang terjungkal masuk jurang saat membawa sayuran di daerah Gunung Kidul. Entah sudah berapa korban, baik mati karena luka sayat panjang hingga terkena organ vital atau mungkin korban kemudian mati akibat infeksi yang disebabkan karat pada bilah besi panjang ini. Belum termasuk anjing-anjing kampung, darahnya juga turut memberikan corak karat disitu, sementara dagingnya ludes menjadi santapan alternatif ditemani alkohol, masuk kedalam perut, mencipta desir darah semakin panas.
Erangan panjang, diburu napas pendek dan berat mengantarkan Percil masuk kedalam dunia bawah sadar, Percil pingsan bersandar pada pagar besi. Seolah tak masuk akal bagi tubuh sekecil itu memiliki pasokan darah yang lumayan banyak namun sia-sia tumpah membasahi aspal, satu lagi cairan turut memberi kesan hitam aspal keras karena hidup memang keras. Sejauh
Dua menit tiga puluh detik waktu yang dibutuhkan Lantang menempuh jarak Pajeksan hingga Rumah Sakit PKU, dalam batin Lantang bukan lagi Vodka 40% dengan campuran Kratingdaeng yang membuatnya mampu berlari secepat itu, melainkan darah panas Percil yang menjadi cambuk bagi seluruh sel dalam tubuhnya agar cepat melakukan kontraksi motorik bagi otot betis dan pahanya, hasilnya Lantang mampu berlari cepat sekali demi menyelamatkan bocah kecil dalam dekapannya itu.
Masuk kedalam halaman parkir, Sapto, juru parkir rumah sakit itu secara spontan membanting motor yang sedang dia susun rapi berjajar setelah melihat Lantang yang berlumuran darah. Menahan pintu masuk terbuat dari kaca agar kawannya ini dapat masuk. Tidak lagi dihiraukan Satpam penjaga rumah sakit, terlebih muka sinis petugas administrasi yang dalam bahasa diamnya saja sudah berteriak berapa banyak uang yang anda bawa sekarang. Tangan kanannya menghempas Satpam bertubuh kekar dan berkumis lebat, sementara lengan kirinya seolah tidak ingin melepas tubuh cilik yang bersandar pada bahunya, tak akan dilepas kecuali dokter UGD sudah siap untuk menangani tubuh Percil yang kritis.
Menyusul masuk Satpam yang kemudian diketahui namanya Kuat Warsito, tertera jelas bordiran huruf yang merangkai namanya pada seragam putih itu. ”Hooii Mas daftar dulu kalau ma..” Pukulan mantap lengan kanan Lantang bersarang pada rahang Kuat Warsito yang tak lagi kuat menahan serangan cepat itu, tersungkur setelah menabrak salah satu kursi roda di ruang UGD dan semaput. Melihat kekacauan, petugas paramedik dan dokter jaga cepat mendekat, itupun setelah teriakan Lantang menggema, memangil siapa saja yang dapat dipercaya untuk segera menangani Percil. Sebelah ranjang yang terpisah kain hijau, mengerang seorang perempuan kira-kira berusia 25 tahun sementara sosok suaminya terlihat lebih gugup, mukanya pucat, rambutnya semrawut mengesani umur jauh lebih tua, gemetar tidak dapat melakukan apapun selain menggenggam erat telapak tangan istrinya, sudah saatnya melahirkan dini hari ini tapi belum juga ada dokter yang menangani.
Tenang melangkah tubuh tegap, muda, putih, berkacamata, terlihat lebih putih lagi dengan jas yang dikenakannya. Dokter Bandi Tampubolon, semoga tak salah dalam batin Lantang membaca nama dokter peranakan sumatera utara itu, semoga bukan BANDIT berbaju putih orang yang berdiri dihadapannya ini. Lantang menarik lengan dokter muda itu, masih saja dengan ringannya dokter muda ini berulangkali mengucapkan tenang... sabar...tenang saja, ingin rasanya kepalan tangan Lantang turut mampir di salah satu bagian tubuh dokter muda, tapi tidak, seolah darah Percil yang cepat mengering itu mencegah dan berkata, `percayakan raga ini padanya, sampai disini dulu perjuanganmu kawanku, abangku yang perkasa..`
Sprei berwarna hijau pada ranjang tempat tubuh lemah Percil sulit dikenali lagi warnanya, darahnya bukanlah warna yang sedang disapukan pada kanvas hijau oleh seorang pelukis, masih juga mengalir darahnya. Setidaknya ada empat luka mengangga pada punggung tubuh si bocah akibat menjadi korban tusukan bayonet milik preman tengik yang memaksa Percil menjual ganja milik mereka, penolakan Percil memposisikan dirinya menjadi korban. Tajam pandangan mata Lantang mengikuti setiap gerakan dokter muda, seolah menjadi dokter senior yang tengah mengawasi dokter baru dalam menangani operasi kecil sebagai prasarat kelayakannya menangani pasien.
Lantang masih berdiri di samping tubuh bocah kritis walau berkali-kali perawat mengusulkan untuk duduk di bangku tunggu, cukup dengan isyarat tatapan mata yang menyempit tajam, perawat itu kembali surut beberapa langkah kebelakang. Datang lagi satu perawat, lelaki kali ini juga berniat memperingati Lantang, namun gertakan Lantang cukup menyibakkan ujung kaosnya hingga nampak sebilah rencong berwarna hitam, souvenir yang dia dapatkan tertancap di perut pemiliknya ketika duel dua tahun lalu. Tak perlu diucapkan secara verbal, gerakan Lantang tadi sudah memberi peringatan, jangan sampai rencong ini kembali membuat bisu jiwa yang bersarang pada tubuh hanya karena banyak omong, perawat itu perlahan bergeser mundur, seolah ada tugas lain yang harus dikerjakan.
Entah berapa lama Lantang berdiri di samping Percil, rasa lelah mulai menyerang tubuhnya, berjalan gontai menuju sebuah pojokan, terduduk lunglai, suara terakhirnya tetap saja keras, “Jangan kau tutup tirai itu! Aku akan tetap mengawasi kalian, awas jangan macam-macam!!” terasa napas pendeknya panas memburu, sebentar pandangannya goyah, citra yang terlihat terpecah menjadi dua berbayang. Digelengkan kepalanya dan memaksa matanya agar tetap terbuka, berkali-kali, hawa panas tubuhnya semakin surut menghantarkan rasa kantuk maha dahsyat. Alam pikirannya cepat memutar memori tepat pada setting kejadian tiga tahun lalu, ketika pertama kali Lantang menemukan Percil dini hari pukul 2.30.
...bersambung ke Jalan Lantang 1 <<---- silakan klik


Hwhehhhehehe ...
Kapan yah aku masuk sini, hohohoho
belum tentu.. jgn gegabah.. hahahahhaa
thank....
Ok ok ok ..
Hihihihi,
teror mental! (pake istilah Putu Wijaya)